JAMBANGAN, DAMPIT – Kegiatan study tiru yang dilaksanakan oleh Pemerintah Desa Jambangan, Kecamatan Dampit, ke Desa Ngijo, Kecamatan Karangploso, pada Sabtu (13/1/2024) sejatinya membawa harapan besar dalam meningkatkan kapasitas kepemudaan dan mendorong kemajuan desa. Namun, setelah beberapa waktu berlalu, kegiatan tersebut perlu dievaluasi secara kritis karena belum mampu menunjukkan hasil positif yang signifikan di tingkat implementasi.
Kegiatan yang diikuti oleh 25 peserta dari berbagai unsur, mulai dari pemerintah desa hingga kelembagaan kepemudaan seperti BPD, Karang Taruna, KIM, dan Kordes UMKM, awalnya diproyeksikan sebagai langkah strategis untuk menyerap ilmu dan pengalaman dari desa yang telah lebih maju. Desa Ngijo sendiri dikenal memiliki sejumlah inovasi, khususnya dalam pengelolaan sampah mandiri, manajemen BUMDes, hingga pengembangan wisata pemandian desa.
Namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa berbagai pengetahuan dan wawasan yang diperoleh dari kegiatan tersebut belum mampu diterjemahkan menjadi aksi nyata di Desa Jambangan. Baik dalam sistem manajemen BUMDes, pengelolaan sampah, maupun pengembangan potensi wisata pemandian, belum terlihat adanya perubahan berarti ataupun inovasi yang diadopsi dari hasil study tiru tersebut.
Padahal, dalam kegiatan tersebut telah dipaparkan secara rinci bagaimana Desa Ngijo mampu mengelola sampah secara mandiri hingga menghasilkan pendapatan ratusan juta rupiah per tahun, dengan sistem yang terorganisir dan melibatkan masyarakat secara aktif. Selain itu, tata kelola usaha desa melalui BUMDes serta pengelolaan wisata lokal juga menjadi contoh konkret yang seharusnya dapat direplikasi, setidaknya dalam skala sederhana.
Minimnya implementasi ini menunjukkan bahwa kegiatan study tiru masih berhenti pada tataran seremonial dan belum menyentuh aspek perubahan mindset maupun komitmen bersama untuk bergerak. Konsep Amati, Tiru, Menyesuaikan (ATM) yang sempat disampaikan dalam forum pun belum dijalankan secara optimal. Tahapan “meniru” dan “menyesuaikan” tampaknya belum benar-benar dilakukan, sehingga hasil pembelajaran tidak berlanjut menjadi program nyata.
Lebih jauh, harapan besar agar kegiatan ini mampu mengubah pola pikir (mindset) para pelaku pembangunan di tingkat desa juga belum terealisasikan. Pola kerja yang cenderung stagnan, kurangnya inisiatif, serta minimnya tindak lanjut pasca kegiatan menjadi faktor penghambat utama. Hal ini menjadi catatan penting bahwa transfer pengetahuan tidak cukup hanya melalui kunjungan, tetapi membutuhkan keseriusan dalam perencanaan, eksekusi, dan evaluasi berkelanjutan.
Oleh karena itu, ke depan diperlukan langkah konkret untuk memaksimalkan manfaat dari kegiatan semacam ini. Salah satunya adalah dengan memperbanyak kegiatan study tiru maupun study banding ke desa-desa lain yang memiliki keunggulan di berbagai bidang. Dengan semakin banyak referensi dan perbandingan, diharapkan akan muncul ide-ide baru yang lebih kontekstual dan aplikatif sesuai dengan kondisi Desa Jambangan.
Selain itu, perlu adanya komitmen bersama dari seluruh pihak untuk menindaklanjuti setiap hasil pembelajaran menjadi program kerja nyata. Pemerintah desa bersama kelembagaan yang ada harus mampu menyusun rencana aksi yang jelas, termasuk pembagian peran, target capaian, serta mekanisme evaluasi yang terukur.
Evaluasi ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan sebuah study tiru tidak diukur dari seberapa banyak kunjungan dilakukan, melainkan dari seberapa besar dampak yang dihasilkan setelahnya. Tanpa implementasi yang nyata, kegiatan tersebut hanya akan menjadi agenda rutin tanpa makna perubahan.
Dengan adanya evaluasi ini, diharapkan ke depan setiap kegiatan peningkatan kapasitas benar-benar mampu memberikan dampak positif, tidak hanya sebagai penambah wawasan, tetapi juga sebagai pemicu perubahan nyata dalam membangun desa yang mandiri, inovatif, dan berdaya saing.
Referensi: https://wonderful-jambangan.kim.id/berita/read/studi-tiru-desa-jambangan-dengan-de7510-350705201201

