Dalam Kenangan: Risma Ayu Baihaqi Putri, Jejak Pengabdian yang Tak Pernah Padam
Langit Desa Jambangan seakan menyimpan kenangan yang tak akan pernah pudar. Di antara hiruk pikuk kehidupan desa yang sederhana, pernah hadir sosok muda penuh semangat, Risma Ayu Baihaqi Putri, mahasiswi semester 7 dari Universitas Muhammadiyah Malang, yang mengabdikan sebulan waktunya melalui program Mahasiswa Mengabdi (PMM). Sejak 21 Juli hingga 21 Agustus 2025, langkah kecilnya menorehkan jejak besar yang kini terasa begitu berarti.
Risma bukan sekadar mahasiswa yang datang menjalankan kewajiban akademik. Ia hadir dengan hati. Dalam setiap sapaan hangat kepada warga, dalam setiap senyum kepada anak-anak, hingga dalam setiap rapat kecil bersama tim dan masyarakat, Risma menunjukkan bahwa pengabdian bukan hanya soal program, tetapi tentang rasa memiliki.
Salah satu warisan terbesar dari perjalanan pengabdiannya adalah terselenggaranya sebuah perhelatan besar yang kini dikenang sebagai tonggak sejarah desa: Jambangan Festival #1 (J-Fest #1). Digelar pada Sabtu, 16 Agustus, sejak pukul 06.00 hingga 13.00 WIB di depan balai desa, kegiatan ini menjadi bukti nyata bagaimana ide, kerja keras, dan kolaborasi dapat melahirkan sesuatu yang luar biasa.
J-Fest #1 bukan sekadar acara. Ia adalah perayaan kebersamaan. Bazaar UMKM yang meramaikan jalan desa membuka peluang ekonomi bagi warga. Parade kesenian anak-anak sekolah menghadirkan warna dan tawa yang menghangatkan suasana. Lomba mewarnai PAUD menjadi panggung pertama bagi anak-anak untuk berani tampil. Jalan sehat yang diikuti ribuan warga menjadi simbol semangat hidup sehat dan kebersamaan.
Ribuan orang terlibat dalam acara ini. Mulai dari paguyuban UMKM, kader PKK, kader kesehatan desa, seluruh lembaga pendidikan, hingga RT dan RW. Muslimat dan Fatayat ikut ambil bagian, menunjukkan bahwa perempuan desa juga memiliki peran besar dalam pembangunan sosial. Dukungan dari Muspika Kecamatan Dampit, LINMAS, BANSER, serta kehadiran anggota DPRD Kabupaten Malang semakin menegaskan bahwa acara ini bukan sekadar kegiatan lokal, melainkan momentum besar yang menyatukan berbagai elemen.
Namun di balik kesuksesan itu, ada sosok-sosok yang bekerja tanpa lelah. Dan Risma adalah salah satunya. Bersama tim PMM dari UMM, didukung oleh KIM Wonderful Jambangan dan para relawan pemuda-pemudi desa, ia mengorbankan waktu, tenaga, dan pikirannya. Tak jarang ia terlihat masih berdiskusi saat yang lain mulai beristirahat. Tak jarang pula ia memilih turun langsung ke lapangan, memastikan setiap detail berjalan sebagaimana mestinya.
Kehadirannya terasa begitu kuat, namun caranya bersikap begitu sederhana. Risma dikenal sebagai pribadi yang rendah hati, meskipun berasal dari latar belakang keluarga yang terpandang sebagai anak seorang perwira tinggi. Ia tidak pernah menunjukkan jarak. Ia justru membaur, duduk bersama warga, bercengkerama dengan anak-anak, dan menghormati setiap orang tanpa memandang latar belakang.
Ketegasannya terlihat saat menghadapi tantangan. Dalam dinamika persiapan acara sebesar J-Fest, tentu tidak semua berjalan mulus. Namun Risma selalu hadir sebagai penyeimbang. Ia tegas dalam keputusan, namun tetap lembut dalam penyampaian. Semangatnya menular, membuat timnya tetap bertahan bahkan saat lelah mulai terasa.
Hari pelaksanaan J-Fest menjadi puncak dari semua usaha itu. Sejak pagi, acara dibuka dengan senam aerobik bersama yang diikuti oleh berbagai kalangan. Kehadiran Camat Dampit, Kapolsek, Babinsa desa, hingga anggota DPRD Kabupaten Malang yang membersamai dari awal hingga akhir membuat suasana semakin istimewa. Para guru dari seluruh lembaga pendidikan juga hadir dengan penuh antusias, mendampingi anak didik mereka dengan bangga.
Semua berjalan lancar. Semua terasa sempurna. Dan di balik itu semua, ada doa, kerja keras, dan ketulusan dari seorang Risma.
Kini, ketika kabar kepergiannya datang, seakan waktu berhenti sejenak. Desa Jambangan kehilangan satu sosok yang mungkin hanya singgah sebentar, namun meninggalkan makna yang begitu dalam. Risma Ayu Baihaqi Putri telah menghembuskan napas terakhirnya, meninggalkan kenangan yang tak tergantikan.
Namun sesungguhnya, ia tidak benar-benar pergi.
Ia hidup dalam tawa anak-anak yang pernah ia bahagiakan.
Ia hidup dalam semangat warga yang pernah ia bangkitkan.
Ia hidup dalam tradisi J-Fest yang diharapkan akan terus berlanjut setiap tahun sebagai bagian dari peringatan kemerdekaan di bulan Agustus.
Apa yang telah ia lakukan menjadi pondasi awal. Sebuah pijakan bagi desa untuk terus berkembang, untuk terus bersatu, dan untuk terus percaya bahwa perubahan bisa dimulai dari langkah kecil.
Risma telah menunjukkan bahwa usia muda bukan penghalang untuk memberi arti. Bahwa satu bulan pengabdian bisa menjadi kenangan seumur hidup bagi banyak orang. Dan bahwa ketulusan akan selalu menemukan jalannya untuk dikenang.
Selamat jalan, Risma Ayu Baihaqi Putri.
Terima kasih atas pengabdianmu, atas ketulusanmu, dan atas jejak indah yang kau tinggalkan di Desa Jambangan.
Semoga Allah SWT menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya, mengampuni segala khilafmu, dan menerima segala amal baikmu sebagai ladang pahala yang tak terputus.
Namamu mungkin kini menjadi kenangan,
namun kisahmu akan terus hidup dalam hati kami.