Akar Sejarah Permusuhan
Ketegangan bermula sejak era Perang Dingin. Pada tahun 1953, pemerintahan Perdana Menteri Iran, Mohammad Mossadegh, digulingkan melalui kudeta yang didukung oleh Amerika Serikat dan Inggris. Mossadegh saat itu menasionalisasi industri minyak Iran yang sebelumnya dikuasai perusahaan Barat. Kudeta tersebut mengembalikan kekuasaan penuh kepada Shah Iran, Mohammad Reza Pahlavi, yang dikenal dekat dengan Barat.
Bagi banyak rakyat Iran, peristiwa ini menjadi simbol campur tangan Amerika dalam kedaulatan nasional mereka.
Puncak ketegangan terjadi saat Iranian Revolution tahun 1979 menggulingkan Shah dan melahirkan Republik Islam di bawah kepemimpinan Ruhollah Khomeini. Rezim baru ini secara terbuka menyebut Amerika sebagai “Setan Besar” dan mengusung ideologi anti-Barat. Krisis penyanderaan diplomat Amerika di Teheran selama 444 hari memperdalam luka hubungan kedua negara.
Sejak saat itu, hubungan diplomatik resmi antara kedua negara terputus.
Faktor Ideologi dan Politik Kawasan
Permusuhan ini tidak hanya soal sejarah, tetapi juga soal visi dunia yang bertolak belakang. Amerika Serikat memandang dirinya sebagai promotor demokrasi liberal dan sekutu utama Israel di kawasan. Sementara Iran memposisikan diri sebagai kekuatan perlawanan terhadap dominasi Barat dan pendukung kelompok-kelompok yang menentang Israel.
Iran secara terbuka mendukung kelompok seperti Hezbollah di Lebanon dan Hamas di Palestina. Dukungan ini dipandang Amerika dan Israel sebagai ancaman keamanan regional.
Program nuklir Iran juga menjadi sumber konflik besar. Amerika menuduh Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir, tuduhan yang dibantah Teheran dengan menyatakan bahwa program tersebut untuk tujuan damai. Kesepakatan nuklir 2015 (JCPOA) sempat menjadi titik terang, namun penarikan diri Amerika dari perjanjian itu pada 2018 kembali meningkatkan ketegangan.
Mengapa Tidak Pernah Ada Titik Damai?
Ada beberapa alasan mengapa permusuhan ini sulit menemukan titik damai:
-
Ketidakpercayaan mendalam akibat sejarah panjang konflik.
-
Pertarungan pengaruh regional, khususnya di Irak, Suriah, Yaman, dan Lebanon.
-
Politik domestik masing-masing negara, di mana sikap keras terhadap pihak lawan sering menjadi modal politik.
-
Aliansi strategis Amerika dengan Israel dan negara-negara Teluk, yang seringkali berbenturan langsung dengan kepentingan Iran.
Selama Iran mempertahankan posisi sebagai kekuatan anti-Barat dan Amerika tetap melihat Iran sebagai ancaman utama stabilitas Timur Tengah, ruang kompromi akan selalu sempit.
Mengapa Negara Teluk Lebih Dekat ke Amerika dan Israel?
Negara-negara Teluk seperti Saudi Arabia, United Arab Emirates, dan Bahrain memiliki dinamika politik yang berbeda dari Iran.
Beberapa faktor yang memengaruhi posisi mereka:
1. Rivalitas Sunni–Syiah
Iran adalah negara mayoritas Syiah dan berambisi memperluas pengaruhnya di kawasan. Banyak negara Teluk yang mayoritas Sunni memandang ekspansi pengaruh Iran sebagai ancaman langsung terhadap stabilitas domestik mereka.
2. Keamanan dan Payung Militer
Amerika Serikat memiliki pangkalan militer di kawasan Teluk dan menjadi penjamin keamanan utama negara-negara tersebut. Ketergantungan keamanan ini membuat mereka cenderung sejalan dengan kebijakan Washington.
3. Kepentingan Ekonomi
Hubungan dagang, investasi, dan kerja sama pertahanan dengan Amerika dan Barat sangat besar nilainya. Selain itu, normalisasi hubungan dengan Israel melalui Abraham Accords membuka peluang kerja sama teknologi dan keamanan.
4. Politik Realisme
Dalam politik internasional, negara sering bertindak berdasarkan kepentingan nasional, bukan solidaritas ideologis. Isu Palestina tetap mendapat dukungan retoris, tetapi prioritas utama banyak negara Teluk adalah stabilitas internal dan kelangsungan rezim.
Posisi Palestina dalam Persaingan Ini
Iran menggunakan isu Palestina sebagai bagian dari legitimasi ideologinya sebagai “poros perlawanan”. Sebaliknya, sebagian negara Teluk mengambil pendekatan pragmatis: mendukung solusi dua negara secara diplomatik, tetapi tetap menjalin hubungan strategis dengan Amerika dan Israel.
Perbedaan pendekatan ini memperlihatkan bahwa politik Timur Tengah bukan sekadar soal solidaritas agama, melainkan persaingan kekuasaan, keamanan, dan ekonomi.
Kesimpulan
Permusuhan Amerika Serikat dan Iran adalah hasil kombinasi sejarah traumatis, konflik ideologi, persaingan geopolitik, dan aliansi regional yang saling bertentangan. Sementara itu, negara-negara Teluk cenderung berpihak pada Amerika dan Israel karena pertimbangan keamanan dan kepentingan nasional mereka sendiri.
Selama faktor-faktor struktural ini masih kuat — terutama perebutan pengaruh regional dan isu keamanan — kemungkinan perdamaian penuh antara Amerika dan Iran akan tetap menghadapi tantangan besar
