Evolusi Karnaval: Kembalinya Marwah Budaya di Tengah Dentuman "Sound Horeg" Jawa Timur
MALANG – Karnaval atau pawai seni dan budaya telah lama menjadi denyut nadi kehidupan masyarakat di Indonesia, khususnya di tanah Jawa. Lebih dari sekadar iring-iringan di jalan raya, kegiatan ini merupakan panggung ekspresi kolektif warga untuk menumpahkan kegembiraan. Baik dalam rangka tradisi leluhur seperti Bersih Desa dan Bersih Dusun, hingga perayaan sakral Peringatan Hari Besar Nasional (PHBN) seperti HUT RI maupun hari besar keagamaan, karnaval adalah momen di mana kearifan lokal berpesta.
Jika menilik ke belakang, wajah karnaval kita mengalami transformasi yang signifikan. Pada era sebelum tahun 2010, fokus utama pawai adalah narasi visual. Masyarakat tumpah ruah menampilkan teatrikal sejarah kepahlawanan, replika tank dari bambu, hingga simulasi hasil pembangunan desa. Fokusnya adalah pada pesan yang disampaikan melalui kostum sederhana dan kreativitas tangan.
Namun, memasuki dekade 2010 hingga sekitar 2020, terjadi pergeseran budaya yang mencolok. Fokus estetika mulai terpinggirkan oleh dominasi teknologi audio. Era ini ditandai dengan munculnya tren "Sound Horeg" atau penggunaan sound system raksasa dengan daya ribuan watt. Daya tarik penonton bergeser dari melihat detail kostum menjadi merasakan getaran bass yang menggetarkan kaca rumah. Karnaval seolah berubah menjadi "perang suara," di mana prestise sebuah dusun diukur dari seberapa besar tumpukan speaker yang mereka bawa.
Menariknya, pasca-pandemi atau mulai tahun 2022, kesadaran estetika masyarakat mulai kembali bangkit. Meski suara dentuman bass tetap menjadi elemen pendukung yang tak terpisahkan, tema seni dan budaya kembali mendominasi panggung jalanan. Masyarakat mulai jenuh jika hanya disuguhi tumpukan speaker tanpa konten visual yang menarik. Kini, sound system besar diposisikan sebagai "pengiring" bagi koreografi tari yang megah, kostum karnaval yang artistik, dan ogoh-ogoh raksasa yang detail. Ada keseimbangan baru: telinga dimanjakan musik, mata dimanjakan seni.
Salah satu fenomena yang paling menonjol dalam tren baru ini adalah Sumbersari Culture Festival. Kegiatan yang berpusat di Dusun Sumbersari ini berhasil menjadi barometer bagaimana budaya dan hobi sound system bisa berjalan beriringan tanpa saling meniadakan.
Membawa tema besar "Culture" atau Budaya, Sumbersari tidak main-main dalam menyuguhkan atraksi. Meski tema budaya menjadi ruh utama, festival ini tetap menjadi "Mekkah" bagi para pecinta audio. Tak tanggung-tanggung, daya tariknya mampu mendatangkan provider sound system papan atas dari berbagai penjuru Jawa Timur. Tidak hanya jagoan dari Malang Raya, namun nama-nama besar dari Jember, Lumajang, hingga Blitar turun gunung untuk unjuk gigi. Integrasi ini membuat Sumbersari Culture Festival bukan sekadar pawai desa, melainkan sebuah pertunjukan kolosal yang menyatukan basis massa pecinta seni tradisional dan penggemar teknologi audio modern.
Di balik kemeriahan dan suara yang menggelegar, karnaval menyimpan dampak fundamental bagi tatanan sosial masyarakat. Secara psikis, kegiatan ini ampuh menumbuhkan jiwa Nasionalisme dan Cinta Budaya, terutama bagi generasi muda yang terlibat langsung dalam pembuatan kostum atau latihan tari.
Lebih jauh lagi, karnaval adalah mesin penggerak Semangat Gotong Royong. Dibutuhkan waktu berbulan-bulan bagi warga untuk mempersiapkan satu tampilan, yang di dalamnya terdapat proses diskusi, iuran swadaya, dan kerja bakti tanpa upah. Hal ini secara otomatis mempererat Kerukunan Lingkungan dan meningkatkan kepedulian antarwarga. Dengan menjaga tradisi karnaval yang tertib dan berbasis budaya, masyarakat tidak hanya merayakan kegembiraan, tetapi juga sedang merawat fondasi kebangsaan dari level yang paling dasar: yaitu dusun kita sendiri.
