Latar Belakang: Benturan Dua Paradigma
Pada awal abad ke-19, Minangkabau berada dalam titik jenuh sosial. Tradisi lama seperti judi, sabung ayam, dan konsumsi madat (opium) menjadi bagian dari keseharian, bahkan di kalangan bangsawan. Ketika Haji Miskin dan rekan-rekannya pulang dari Mekah, mereka membawa ideologi "Pembersihan Islam" yang sangat radikal pada masanya.
Mereka tidak hanya berdakwah, tetapi juga melakukan tindakan fisik. Puncaknya adalah pembakaran Saruaso oleh Kaum Paderi yang memaksa keluarga Kerajaan Pagaruyung melarikan diri. Konflik ini awalnya bukan tentang melawan penjajah, melainkan perang saudara untuk menentukan identitas budaya Minangkabau di masa depan.
Strategi Militer: Benteng di Atas Bukit
Kaum Paderi bukanlah pasukan sembarangan. Mereka memiliki struktur militer yang terorganisir di bawah kepemimpinan para "Tuanku". Salah satu yang paling menonjol adalah Tuanku Nan Renceh, yang dikenal sangat tegas dan tanpa kompromi.
Strategi pertahanan Paderi sangat tangguh:
Benteng Alam: Mereka memanfaatkan kontur bukit-bukit terjal di Sumatera Barat.
Benteng Tanah: Mereka membangun dinding tanah yang tebal, diperkuat dengan bambu berduri dan parit-parit dalam yang sulit ditembus kavaleri Belanda.
Senjata: Selain keris dan tombak, mereka menggunakan meriam kuno dan senapan hasil rampasan atau perdagangan gelap dengan pihak luar (Inggris dan Amerika melalui pesisir).
Tuanku Imam Bonjol: Sosok yang Humanis
Muhammad Syahab (nama asli Imam Bonjol) muncul sebagai pemimpin utama setelah beberapa pemimpin Paderi awal wafat. Berbeda dengan pendahulunya yang sangat keras, Imam Bonjol lebih moderat dan berupaya merangkul Kaum Adat.
Dalam naskah Memoar Tuanku Imam Bonjol, terungkap sisi kemanusiaannya. Ia sempat menyesali kekerasan yang terjadi di awal gerakan Paderi karena menurutnya perpecahan tersebut justru memberi celah bagi Belanda ("Si Putih") untuk masuk dan mengadu domba saudara seagama dan se-tanah air.
Taktik Licik Belanda dan Pengepungan Bonjol
Belanda di bawah pimpinan Jenderal Cochius menyadari bahwa mereka tidak bisa mengalahkan Paderi hanya dengan serangan terbuka. Setelah Perang Diponegoro di Jawa selesai (1830), Belanda memindahkan seluruh kekuatan militernya ke Sumatera.
Strategi Isolasi: Belanda memutus jalur perdagangan garam dan tekstil ke wilayah pedalaman untuk melumpuhkan ekonomi rakyat.
Pengepungan 6 Bulan: Benteng Bonjol dikepung rapat dari segala penjuru sejak tahun 1836. Serangan artileri berat dilakukan terus-menerus.
Pengkhianatan: Pada Agustus 1837, karena kondisi benteng yang sudah sangat hancur dan rakyat kelaparan, Belanda menawarkan perundingan damai. Namun, saat Imam Bonjol datang tanpa senjata, ia justru ditangkap. Ini adalah taktik klasik Belanda yang juga digunakan untuk menangkap Pangeran Diponegoro.
Dampak Jangka Panjang: "Sumpah Satia Marapalam"
Meski secara militer Paderi kalah, secara ideologi mereka menang. Perang ini melahirkan rekonsiliasi besar yang dikenal sebagai Plakat Puncak Pato di Marapalam. Di sana, Kaum Adat dan Paderi berjanji untuk bersatu.
Inilah momen lahirnya falsafah hidup orang Minang yang sangat terkenal:
"Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah" (Adat berlandaskan hukum agama, hukum agama berlandaskan Al-Qur'an).
Sejak saat itu, menjadi orang Minangkabau berarti harus beragama Islam. Identitas ini menjadi sangat kuat dan menjadi modal sosial luar biasa bagi masyarakat Sumatera Barat dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia di kemudian hari.
