Jangan Jadikan NU, Muhammadiyah, Sunni ataupun Syiah sebagai Agama, Cukup Islam Saja

Jangan Jadikan NU, Muhammadiyah, Sunni ataupun Syiah sebagai Agama, Cukup Islam Saja

Oleh: Opini Penulis

Di tengah kehidupan masyarakat yang semakin terbuka dan mudah terhubung melalui berbagai media, kita sering menyaksikan sebuah kenyataan yang memprihatinkan: perdebatan bahkan permusuhan antar sesama umat Islam hanya karena perbedaan cara pandang dalam menjalankan ajaran agama. Perbedaan yang seharusnya menjadi kekayaan intelektual justru berubah menjadi sumber konflik. Dari sinilah muncul kegelisahan yang mendorong penulis untuk menyampaikan sebuah pandangan sederhana: jangan jadikan NU, Muhammadiyah, Sunni, ataupun Syiah sebagai agama. Cukup Islam saja.

Islam adalah agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Sejak awal kehadirannya, Islam datang untuk mempersatukan manusia dalam satu keyakinan kepada Allah SWT. Nabi Muhammad SAW mengajarkan bahwa umat Islam adalah satu kesatuan, satu saudara. Namun dalam perjalanan sejarah yang panjang, muncul berbagai pemahaman, mazhab, organisasi, dan kelompok yang lahir dari perbedaan cara menafsirkan ajaran agama.

Di Indonesia misalnya, kita mengenal organisasi besar seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Keduanya memiliki peran besar dalam sejarah bangsa, pendidikan, dakwah, dan kehidupan sosial masyarakat. Demikian pula dalam dunia Islam secara global, kita mengenal kelompok Sunni dan Syiah yang memiliki sejarah panjang dalam tradisi keilmuan Islam. Semua itu pada dasarnya adalah bentuk keragaman pemikiran dalam memahami agama.

Namun masalah muncul ketika identitas organisasi atau kelompok tersebut seolah-olah berubah menjadi “agama baru”. Sebagian orang mulai merasa bahwa kelompoknya adalah yang paling benar, paling murni, dan paling berhak mewakili Islam. Bahkan tidak jarang muncul sikap merendahkan kelompok lain, menuduh sesat, hingga memunculkan kebencian yang berujung konflik.

Padahal jika kita kembali kepada hal yang paling mendasar, semua umat Islam memiliki kesamaan yang sangat kuat. Mereka menyembah Tuhan yang sama, yaitu Allah SWT. Mereka mengikuti Nabi yang sama, yaitu Nabi Muhammad SAW. Mereka membaca kitab suci yang sama, yaitu Al-Qur’an. Mereka melaksanakan ibadah yang sama seperti shalat, puasa, zakat, dan haji. Bahkan kiblat mereka pun sama, menghadap ke Ka’bah di Makkah.

Jika fondasi keimanan dan ibadahnya sama, mengapa perbedaan cara pandang justru menjadi alasan untuk saling memusuhi?

Kebenaran mutlak dalam agama sesungguhnya hanya milik Allah SWT. Manusia hanya berusaha memahami dan menafsirkan ajaran-Nya sesuai dengan kemampuan ilmu, lingkungan, dan pengalaman masing-masing. Karena itu sangat tidak bijak ketika seseorang atau sebuah kelompok merasa paling benar, paling suci, bahkan seolah-olah menjadi pemegang kunci surga.

Padahal dalam banyak ajaran Islam, kita diingatkan untuk selalu bersikap rendah hati dalam beragama. Tidak ada manusia yang bisa memastikan dirinya paling benar, apalagi memastikan orang lain pasti salah. Sikap seperti itu justru dapat menjerumuskan seseorang pada kesombongan spiritual yang sangat berbahaya.

Penulis juga tertarik dengan pernyataan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan, yang pernah menyampaikan bahwa Turki hanya mengenal satu Islam. Negara tersebut tidak membedakan siapa Sunni dan siapa Syiah. Pandangan ini mencerminkan semangat persatuan yang sangat penting dalam menjaga stabilitas umat.

Pesan tersebut sebenarnya sederhana tetapi sangat kuat: identitas sebagai Muslim seharusnya lebih besar daripada identitas kelompok mana pun.

Sayangnya dalam kehidupan nyata, khususnya di tingkat akar rumput, perbedaan sering kali diperbesar. Hal-hal kecil dalam praktik ibadah bisa menjadi bahan perdebatan panjang. Cara berdoa, cara berzikir, posisi tangan saat shalat, hingga persoalan tradisi keagamaan sering diperdebatkan seolah-olah menjadi penentu benar atau salahnya keislaman seseorang.

Yang lebih memprihatinkan, perdebatan tersebut kadang tidak lagi dilakukan dengan semangat mencari kebenaran, tetapi dengan emosi, kebencian, dan keinginan untuk menang sendiri. Akibatnya, hubungan persaudaraan antar umat Islam menjadi renggang.

Penulis juga melihat bahwa perpecahan dalam tubuh umat Islam sering kali dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang memang tidak menyukai Islam. Dalam sejarah dunia, strategi “pecah belah” merupakan cara yang sangat efektif untuk melemahkan sebuah kekuatan besar. Ketika umat Islam saling curiga, saling menyalahkan, dan saling bermusuhan, maka kekuatan besar yang seharusnya dimiliki oleh umat ini akan hilang dengan sendirinya.

Bisa jadi inilah yang oleh sebagian pengamat disebut sebagai operasi global yang dilakukan secara halus untuk melemahkan umat Islam dari dalam. Tidak perlu menyerang secara langsung, cukup dengan menanamkan bibit perpecahan, provokasi, dan saling curiga. Sayangnya, umat Islam sering kali tanpa sadar terjebak dalam permainan tersebut.

Padahal jika umat Islam mampu menjaga persatuan, kekuatan mereka akan sangat besar. Dengan jumlah penduduk yang mencapai miliaran orang di seluruh dunia, potensi umat Islam sebenarnya sangat luar biasa dalam berbagai bidang: pendidikan, ekonomi, ilmu pengetahuan, hingga peradaban.

Karena itu sudah saatnya kita kembali kepada esensi utama: Islam sebagai agama persatuan. Organisasi, mazhab, dan kelompok boleh saja ada sebagai sarana belajar dan berdakwah. Namun semuanya harus ditempatkan pada posisi yang tepat, yaitu sebagai jalan memahami Islam, bukan sebagai pengganti Islam itu sendiri.

Menjadi warga NU tidak membuat seseorang lebih Islam daripada yang lain. Menjadi anggota Muhammadiyah juga tidak menjadikan seseorang otomatis lebih benar. Begitu pula menjadi Sunni atau Syiah tidak serta-merta menentukan siapa yang paling dekat dengan Allah.

Yang menentukan kedekatan seseorang dengan Allah adalah ketakwaan, keikhlasan, dan amal perbuatannya.

Pada akhirnya, kita semua adalah umat Nabi Muhammad SAW yang sama-sama berharap mendapatkan ridha Allah dan keselamatan di akhirat. Maka akan sangat disayangkan jika perjalanan menuju tujuan yang sama justru diwarnai dengan permusuhan antar saudara sendiri.

Sudah saatnya umat Islam belajar untuk lebih dewasa dalam menyikapi perbedaan. Menghormati perbedaan bukan berarti mengorbankan keyakinan, tetapi justru menunjukkan kedalaman iman dan keluasan hati.

Mari kita kembali mengingat identitas utama kita: Muslim. Bukan Muslim NU, bukan Muslim Muhammadiyah, bukan Muslim Sunni, bukan Muslim Syiah. Tetapi Muslim yang bersaudara dalam satu kalimat yang sama:

La ilaha illallah, Muhammadur Rasulullah.

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال