Tujuh Majelis Satu Cinta: Antara Safari Sholawat dan Safari Menunggu
Awal tahun 2022. Dunia baru saja belajar berdamai dengan badai bernama pandemi. Masker mulai dilonggarkan, jarak mulai diperdekat, dan kerinduan untuk berkumpul menemukan jalannya. Di Desa Jambangan, harapan itu menjelma dalam sebuah gerakan bernama Majelis Sholawat Jambangan—yang dengan penuh percaya diri menamai dirinya “Tujuh Majelis Satu Cinta.”
Nama yang indah. Puitis. Seolah-olah jika cinta sudah satu, maka ego akan luruh, jadwal akan tertib, dan kekompakan akan abadi.
Gerakan ini diinisiasi oleh Karang Taruna Desa Jambangan sebagai ruang silaturrahmi bagi grup-grup sholawat yang selama ini berjalan sendiri-sendiri. Tercatat tujuh nama di awal kebangkitan itu: Al Amin, Al Fitroh, Al Hidayah, Al Insani, Kunokawan, Nurul Musthofa, dan Miftakhul Jannah. Belakangan, Alfassalam ikut bergabung, membuat cinta yang semula tujuh menjadi delapan—tanpa harus mengganti nama.
Konsepnya sederhana namun penuh semangat: safari keliling dua bulan sekali, bergantian menjadi tuan rumah. Satu desa, banyak rebana, satu irama, satu cinta. Setiap pertemuan terasa seperti reuni panjang setelah sekian lama terpisah oleh jarak sosial dan ketakutan global. Dukungan datang dari Ranting NU Desa Jambangan dan Pemerintah Desa. Lampu panggung menyala, pengeras suara berdengung, dan doa-doa melambung.
Di masa itu, “Tujuh Majelis Satu Cinta” bukan sekadar slogan. Ia adalah kebanggaan. Bukti bahwa anak-anak muda masih mau bersholawat, bahwa organisasi bisa hidup, bahwa semangat kolektif bukan sekadar teori.
Namun, sebagaimana banyak kisah kebersamaan lainnya, tantangan bukanlah saat membangun—melainkan saat menjaga.
Waktu berjalan. Agenda mulai berbenturan. Kesibukan pribadi perlahan menggantikan prioritas bersama. Komunikasi yang dulu riuh di grup percakapan kini lebih sering sunyi. Undangan yang dulu cepat direspons, kini sekadar dibaca—atau lebih jujur lagi, diabaikan.
Dinamika organisasi pun datang tanpa permisi. Perbedaan kecil membesar, harapan tak tersampaikan, dan mungkin ada ego yang tumbuh diam-diam. Dukungan eksternal yang dulu hangat, perlahan meredup. Panggung masih ada, rebana masih tersimpan rapi, tetapi ruh kebersamaan entah ke mana.
Kini, sudah berbulan-bulan tak ada kegiatan bersama. Semua menunggu. Masalahnya, tak ada yang benar-benar tahu siapa yang ditunggu. Apakah menunggu satu orang untuk memulai? Menunggu keberanian untuk menyapa lebih dulu? Atau menunggu keajaiban yang tak pernah dijadwalkan?
Semua bersuara, tapi entah kepada siapa suara itu diarahkan. Semua merasa memiliki, tetapi tak ada yang benar-benar merasa bertanggung jawab. Cinta masih disebut-sebut, namun jarang diperjuangkan.
Satirnya, nama “Tujuh Majelis Satu Cinta” masih terdengar gagah. Ia masih tertulis di spanduk lama, mungkin juga di bio media sosial. Tetapi cinta, seperti tanaman, tak cukup hanya diberi nama. Ia perlu dirawat, disiram, dan dijaga dari gulma prasangka serta lelah yang tak dikomunikasikan.
Kata bijak lama memang tak pernah salah: dalam sebuah organisasi, lebih mudah membangun daripada menjaga keistiqomahannya. Mendirikan forum bisa dilakukan dalam satu rapat penuh semangat. Tetapi menjaga konsistensi butuh kesabaran yang panjang, keikhlasan yang dalam, dan kadang kemampuan untuk menahan diri dari keinginan menjadi yang paling benar.
“Tujuh Majelis Satu Cinta” pernah menjadi simbol bangkitnya kebersamaan pasca badai. Pertanyaannya kini bukan lagi bagaimana ia berdiri, melainkan apakah ia masih ingin berdiri bersama.
Sampai kapan menunggu?
Sampai kapan saling diam?
Sampai kapan cinta hanya menjadi nama?
Mungkin jawabannya sederhana: organisasi tak pernah benar-benar mati karena kekurangan orang. Ia redup karena kekurangan komitmen. Dan jika cinta itu memang masih satu, barangkali yang dibutuhkan bukan rapat besar, bukan panggung megah, melainkan satu langkah kecil—menyapa lebih dulu, mengajak lebih dulu, bergerak lebih dulu.
Karena pada akhirnya, yang menentukan nasib “Tujuh Majelis Satu Cinta” bukan badai, bukan pandemi, bukan sunyinya dukungan.
Melainkan: apakah tujuh—atau delapan—majelis itu masih mau benar-benar menjadi satu.
