Bimbingan Teknis KIM 2026: Dewi Yuhana Tekankan Urgensi KIM Bagi Penguatan Kelembagaan Kemitraan dan Branding Desa

Bimbingan Teknis (Bimtek) Komunitas Informasi Masyarakat (KIM) Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Malang pada Senin, 23 Februari 2026, berlangsung di ruang Anusapati, Jl. Merdeka Timur No. 3 Kota Malang. Kegiatan ini bukan sekadar forum peningkatan kapasitas, tetapi menjadi momentum penting untuk memperkuat peran KIM sebagai garda terdepan diseminasi informasi di tingkat desa. Dari sekian rangkaian acara, perhatian peserta tertuju pada satu sosok narasumber yang tampil penuh energi dan perspektif segar: Dewi Yuhana.

Direktur Deazha Prima Nusantara tersebut hadir membawakan materi tentang branding desa dengan pendekatan yang lugas, kontekstual, dan aplikatif. Dengan latar belakang keilmuan psikologi dan pengalaman panjang di bidang komunikasi publik, Dewi Yuhana mampu menghidupkan suasana ruang bimtek yang dihadiri perwakilan KIM dari berbagai kecamatan di Kabupaten Malang.

Sejak awal pemaparan, Dewi menegaskan satu gagasan kunci: “Semua KIM adalah Public Relations (PR) bagi desanya masing-masing.” Pernyataan itu bukan sekadar slogan, melainkan paradigma baru yang ia dorong untuk dipahami dan dijalankan oleh seluruh peserta. Menurutnya, di era digital yang bergerak cepat, desa tidak cukup hanya memiliki potensi—desa harus mampu mengomunikasikan potensinya secara strategis.

Ia menjelaskan bahwa branding bukan sekadar membuat logo, slogan, atau konten media sosial yang menarik. Branding adalah proses membangun persepsi, citra, dan kepercayaan publik terhadap sebuah entitas—dalam hal ini desa. Ketika sebuah desa dikenal sebagai sentra UMKM unggulan, desa wisata yang ramah, atau desa pertanian inovatif, maka itu adalah hasil dari branding yang konsisten dan terarah.

Dewi mengajak peserta untuk memetakan potensi desa masing-masing secara jujur dan terukur. “Apa yang membuat desa Anda berbeda?” tanyanya kepada peserta. Pertanyaan reflektif itu memancing diskusi hangat. Ia menekankan pentingnya menemukan unique value proposition—keunikan yang tidak dimiliki desa lain—sebagai fondasi strategi komunikasi.

Lebih jauh, ia memaparkan bahwa KIM memiliki posisi strategis sebagai corong informasi sekaligus jembatan antara pemerintah dan masyarakat. Ketika pemerintah daerah memiliki program unggulan, KIM berperan menyampaikan informasi tersebut secara utuh, akurat, dan mudah dipahami. Sebaliknya, ketika masyarakat memiliki aspirasi atau persoalan, KIM dapat menjadi kanal penyampai yang efektif.

Dalam konteks tersebut, Dewi menekankan pentingnya kecepatan dan ketepatan informasi. Ia mengingatkan bahwa di tengah derasnya arus informasi dan maraknya hoaks, KIM harus menjadi sumber rujukan yang kredibel. “Kepercayaan itu dibangun dari konsistensi. Sekali masyarakat percaya, informasi dari KIM akan selalu dinanti,” ujarnya.

Tidak hanya berbicara teori, Dewi juga membagikan strategi praktis membangun branding desa melalui media digital. Ia mendorong pemanfaatan platform media sosial secara terencana, bukan sekadar unggah konten tanpa arah. Konten, menurutnya, harus memiliki narasi yang kuat, visual yang menarik, serta pesan yang jelas dan relevan dengan kebutuhan audiens.

Ia juga menyoroti pentingnya storytelling dalam mengangkat potensi desa. Produk UMKM, misalnya, tidak hanya dijual sebagai barang, tetapi sebagai cerita: tentang proses pembuatannya, tentang pelaku usahanya, tentang nilai lokal yang terkandung di dalamnya. Dengan pendekatan ini, promosi tidak terasa kaku, melainkan menyentuh sisi emosional audiens.

Dalam paparannya, Dewi menghubungkan branding dengan dampak ekonomi. Ketika desa memiliki citra positif dan dikenal luas, peluang pasar terbuka lebih besar. Investor, wisatawan, maupun mitra bisnis akan lebih percaya untuk menjalin kerja sama. Di sinilah peran KIM menjadi krusial dalam membuka akses informasi tentang peluang pasar, permintaan produk, hingga potensi kolaborasi antar komunitas.

Sementara itu, dalam sambutan sebelumnya, Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Kabupaten Malang, Iwan Heri Kristianto, menyampaikan bahwa Bimtek ini bertujuan mempercepat diseminasi informasi yang cepat, tepat, dan akurat, memberdayakan masyarakat agar cerdas memilah informasi, serta mewujudkan jaringan komunikasi dua arah antara masyarakat dan pemerintah. Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Malang, Drs. Atsalis Supriyanto, M.Si., juga menegaskan pentingnya peningkatan literasi informasi dan penciptaan arus informasi yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Namun, melalui materi Dewi Yuhana, seluruh tujuan besar tersebut menemukan bentuk implementasinya di lapangan. Branding desa bukan hanya soal pencitraan, melainkan strategi pemberdayaan. KIM bukan sekadar komunitas informasi, melainkan agen perubahan persepsi.

Menutup sesi, Dewi mengajak seluruh peserta untuk pulang membawa satu komitmen: mulai membangun narasi positif tentang desa masing-masing. “Kalau bukan kita yang menceritakan potensi desa kita, siapa lagi?” ucapnya penuh semangat.

Bimtek KIM Tahun 2026 pun tidak hanya menjadi agenda rutin tahunan, tetapi menjadi titik tolak penguatan peran KIM sebagai PR desa—yang tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membangun kebanggaan, kepercayaan, dan masa depan desa melalui strategi branding yang terarah dan berkelanjutan.

Dokumentasi: KominfokabMalang

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال