Stop Bullying: Karena Kita Semua Berharga




JEGONG, DAMPIT - Ada luka yang tidak meneteskan darah, tidak meninggalkan bekas di kulit, tetapi menetap lama di ruang batin. Luka itu lahir dari kata-kata yang dilontarkan tanpa timbang rasa, dari tawa yang terasa ringan bagi sebagian orang namun berat bagi yang menerimanya, dari sikap acuh yang perlahan membuat seseorang merasa tak terlihat. Luka semacam ini sering kali sunyi, namun daya hancurnya pelan dan panjang.

Di MI Hasyim Asy’ari, Dusun Jegong, keheningan itu disingkap. Mahasiswa Digdaya KKN 6 Universitas Wisnuwardhana Malang menghadirkan sebuah ruang belajar yang berbeda melalui edukasi bertajuk “Stop Bullying: Karena Kita Semua Berharga.” Sebuah perjumpaan yang tidak hanya mengajak anak-anak memahami apa itu bullying, tetapi juga menumbuhkan kesadaran tentang bagaimana seharusnya manusia saling memperlakukan.

Anak-anak diajak mengenali rupa-rupa bullying yang kerap bersembunyi di balik candaan. Tentang ejekan yang diulang hingga melukai, tentang sikap mengucilkan yang membuat seseorang merasa sendiri di tengah keramaian, serta tentang diam yang tanpa sadar ikut memberi ruang bagi luka untuk tumbuh. Mereka belajar bahwa tidak semua kekerasan bersuara keras; sebagian justru hadir dalam kebiasaan kecil yang dibiarkan.

Melalui cerita, tanya jawab, dan percakapan yang akrab dengan dunia anak, materi disampaikan dengan bahasa yang lembut dan penuh empati. Anak-anak diberi ruang untuk memahami perasaan perasaan ketika diejek, ketika tidak diajak bermain, atau ketika menjadi saksi namun memilih diam. Dari sana, empati diperkenalkan bukan sebagai aturan yang mengikat, melainkan sebagai keberanian: keberanian untuk peduli, untuk berkata cukup, dan untuk berdiri di sisi yang melindungi.

Pendidikan tentang anti-bullying sejatinya adalah pendidikan tentang kemanusiaan. Ia tidak berhenti pada larangan menyakiti, tetapi meluas menjadi ajakan untuk saling menjaga. Menjaga kata, menjaga sikap, dan menjaga hati. Sebab setiap anak membawa cerita, dan setiap cerita layak diperlakukan dengan hormat.

Di madrasah sederhana itu, nilai-nilai tersebut ditanamkan perlahan, seperti benih yang kelak diharapkan tumbuh menjadi kebiasaan. Anak-anak diajak memahami bahwa menjadi kuat bukan berarti melukai, dan menjadi hebat bukan tentang menguasai, melainkan tentang mampu menghargai sesama.

Dari Dusun Jegong, sebuah pesan pun dilepaskan dengan tenang, dunia yang bersih tidak hanya bebas dari sampah, tetapi juga dari kata-kata yang merendahkan dan perilaku yang menyisihkan. Dunia yang ramah adalah dunia yang memberi ruang aman bagi setiap anak untuk tumbuh tanpa rasa takut.

Dan di akhir perjumpaan itu, satu kesadaran mengendap perlahan—bahwa setiap anak berharga. Setiap suara layak didengar, setiap perasaan layak dijaga. Dari kesadaran itulah masa depan Desa Jambangan belajar menjadi lebih manusiawi, tumbuh dari keberanian kecil untuk saling menghormati sejak dini.

Author: Nurul F, Digdaya KKN 6

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال