Lailatul Ijtima MWC NU Kecamatan Dampit Perkuat Silaturahmi dan Pemahaman Ke-Aswaja-an
DAMPIT – Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Dampit kembali menggelar kegiatan rutin Lailatul Ijtima yang dirangkai dengan pengajian kitab dan silaturahmi pengurus. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Minggu, 4 Januari 2024, bertempat di Masjid Nurul Hidayah Dusun Grangsil, mulai pukul 18.00 hingga 20.30 WIB, dan berlangsung dengan khidmat serta penuh kebersamaan.
Kegiatan Lailatul Ijtima kali ini dipandu oleh Ustadz Ali Murtadlo, selaku Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Kecamatan Dampit, yang bertindak sebagai pembawa acara. Rangkaian acara diawali dengan doa iftitah, memohon keberkahan dan kelancaran seluruh rangkaian kegiatan.
Susunan acara dimulai dengan Sholat Maghrib berjamaah, yang diikuti oleh jajaran pengurus MWC NU Kecamatan Dampit, pengurus Ranting NU se-Kecamatan Dampit, tokoh agama, takmir masjid, remaja masjid, serta jamaah setempat. Sholat berjamaah ini menjadi simbol kebersamaan dan kekuatan ukhuwah Islamiyah yang terus dijaga oleh warga Nahdliyin.
Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari tuan rumah. Dalam sambutannya, perwakilan Takmir Masjid Nurul Hidayah Dusun Grangsil menyampaikan ucapan terima kasih atas amanah dan kepercayaan yang telah diberikan kepada takmir masjid dan Remaja Masjid Nurul Hidayah sebagai penyelenggara kegiatan Lailatul Ijtima. Ia berharap kegiatan ini membawa manfaat, keberkahan, serta dapat semakin mempererat hubungan antara jamaah, pengurus NU, dan masyarakat sekitar.
Selanjutnya, sambutan dari MWC NU Kecamatan Dampit menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada pihak tuan rumah yang telah bersedia menjadi tempat berlangsungnya kegiatan Lailatul Ijtima. Dalam sambutan tersebut disampaikan bahwa Lailatul Ijtima tidak hanya menjadi media pengkajian kitab, tetapi juga merupakan ajang silaturahmi strategis antara Pengurus MWC NU dengan Pengurus Ranting NU se-Kecamatan Dampit. Melalui forum ini diharapkan terbangun komunikasi yang harmonis, soliditas organisasi, serta kesamaan pemahaman dalam menjaga dan mengamalkan ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah.
Memasuki acara inti, jamaah mengikuti pengajian kitab yang disampaikan oleh Ustadz Ibadurrahman. Dalam tausiyahnya, beliau menjelaskan pedoman dasar umat Islam yang menjadi fondasi keagamaan warga Nahdlatul Ulama, yaitu meliputi Ushuluddin dan Tauhid (Akidah), Tasawuf (penyucian jiwa), serta Fiqih dan Ushul Fiqih (hukum Islam).
Dalam bidang akidah, Ustadz Ibadurrahman menegaskan bahwa umat Islam Indonesia, khususnya yang bermazhab Syafi’i, secara umum mengikuti akidah Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) dengan aliran Asy’ariyah yang dirintis oleh Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari serta Maturidiyah. Akidah ini menggabungkan pendekatan teks wahyu dengan penggunaan akal sebagai pendukung. Dijelaskan pula pokok ajaran tentang sifat Allah yang qadim, Al-Qur’an sebagai Kalamullah yang bukan makhluk, serta kemungkinan melihat Allah di akhirat. Pemahaman 20 sifat wajib, 20 sifat mustahil, dan 1 sifat jaiz bagi Allah juga menjadi panduan penting dalam pembelajaran akidah di lingkungan NU.
Pada aspek tasawuf, beliau menyampaikan bahwa tasawuf yang dianut adalah Tasawuf Sunni yang moderat dan berlandaskan syariat, dengan rujukan utama Imam al-Ghazali. Kitab Ihya’ Ulumuddin dijadikan pedoman dalam membersihkan hati dari sifat tercela seperti hasad, riya, dan ujub, serta menanamkan sifat terpuji seperti taubat, sabar, zuhud, tawakkal, mahabbah, ma’rifah, dan ridla. Tasawuf juga ditekankan sebagai praktik keseharian yang seimbang antara syariat dan hakikat.
Sementara dalam bidang fiqih, dijelaskan bahwa mayoritas umat Islam Indonesia mengikuti mazhab Imam Syafi’i yang dikenal seimbang antara dalil naqli dan aqli. Kitab-kitab fiqih yang umum dipelajari di pesantren seperti Safinatun Naja, Fathul Qarib, Minhajul Qawim, dan Tuhfatul Muhtaj menjadi rujukan utama dalam memahami hukum Islam.
Sebagai penutup, Ustadz Ibadurrahman merangkum konfigurasi keagamaan warga NU yang meliputi Fiqih Imam Syafi’i, Akidah Asy’ariyah/Maturidiyah, dan Tasawuf Imam al-Ghazali, yang dikenal sebagai pakem Ahlussunnah wal Jama’ah. Kegiatan Lailatul Ijtima ini diharapkan mampu memperkuat pemahaman keagamaan, menjaga tradisi keilmuan, serta mempererat persatuan warga Nahdliyin di Kecamatan Dampit.
Acara ditutup dengan Doa oleh Kyai Mashuri, Rois Syuriah MWC NU Kecamatan Dampit.
