Asal Usul Gunung Pecel Pitik di Desa Pamotan
Pada masa lampau, ketika bumi Pamotan masih diselimuti hutan rimba yang luas dan belum banyak dijamah manusia, alam hidup dalam keseimbangan. Sungai-sungai kecil mengalir jernih, burung bernyanyi setiap pagi, dan hewan liar hidup berdampingan tanpa rasa takut. Namun keseimbangan itu perlahan terganggu ketika manusia mulai serakah, menebang pohon tanpa batas dan melupakan pesan leluhur tentang menjaga alam.
Di tengah desa Pamotan, hiduplah seorang janda sederhana bernama Mbok Ranti bersama putranya, Jaka Wira. Meski hidup pas-pasan, Mbok Ranti dikenal sangat dermawan. Ia sering memasak pecel pitik, hidangan ayam kampung berbumbu kelapa dan rempah, lalu membagikannya kepada siapa saja yang membutuhkan. Baginya, makanan bukan hanya pengganjal perut, tetapi wujud kasih dan syukur kepada Sang Pencipta.
Suatu senja, datanglah seorang kakek tua berpakaian compang-camping. Tubuhnya gemetar menahan lapar. Banyak warga menutup pintu rumahnya, namun Mbok Ranti justru menyambutnya dengan senyum. Ia menyuguhkan sepiring pecel pitik hangat. Saat menyantap hidangan itu, mata sang kakek berbinar, seolah menemukan kembali harapan yang lama hilang. Sebelum pergi, ia berpesan,
"Ingatlah, alam akan melindungi mereka yang menjaganya."
Usai mengucapkan kata-kata itu, kakek tersebut lenyap ditelan senja.
Tak lama setelah kejadian itu, Pamotan dilanda bencana. Hutan yang rusak membuat hewan-hewan kelaparan. Dari kedalaman rimba, muncul dua ekor sanca raksasa, jantan dan betina, bertubuh hitam kehijauan dengan mata merah menyala. Kelaparan telah mengubah mereka menjadi makhluk kejam. Ternak warga dimangsa, dan suara desis mereka terdengar setiap malam, membuat penduduk desa hidup dalam ketakutan.
Pada puncak keputusasaan, warga berkumpul di rumah Mbok Ranti untuk berdoa. Malam itu, angin bertiup kencang dan langit menggelegar. Tiba-tiba terdengar kokok ayam yang menggema, jauh lebih keras dari suara petir. Dari balik hutan, muncullah ayam jago raksasa, tubuhnya setinggi pohon kelapa, bulunya berkilau seperti api, dan cakarnya menghujam tanah.
Pertarungan dahsyat pun terjadi. Ayam jago raksasa melompat, mematuk, dan mencakar dengan kekuatan yang mengguncang bumi. Kedua sanca melilit dan menyemburkan bisa, membuat tanah terbelah dan pepohonan tumbang. Warga menyaksikan dengan napas tertahan, antara harapan dan ketakutan. Hingga akhirnya, dengan satu kepakan sayap yang mengguncang langit, sang jago berhasil menaklukkan keduanya.
Sanca jantan dilemparkan jauh ke arah timur, tubuhnya menghantam bumi dan menjelma menjadi Kali Juwog. Sanca betina dilemparkan ke arah barat dan berubah menjadi Kali Lesti. Kedua sungai itu mengalir deras, membawa air kehidupan ke sawah dan ladang warga Pamotan.
Namun keajaiban belum berakhir. Ayam jago raksasa perlahan berubah wujud menjadi kakek tua yang dahulu ditolong Mbok Ranti. Ia mengungkapkan bahwa dirinya adalah penjaga alam yang turun untuk menguji ketulusan manusia. Sebagai anugerah terakhir, ia membuat kedua sungai—Kali Juwog dan Kali Lesti—mengalir lebih jauh, hingga akhirnya bersatu dan menjadi bagian dari Sungai Brantas, sungai besar yang memberi kehidupan bagi banyak wilayah di tanah Jawa.
Di tempat Mbok Ranti biasa memasak dan berbagi pecel pitik, tanah terangkat membentuk sebuah gunung kecil yang menyerupai hidangan pecel dengan ayam di atasnya. Gunung itu dinamakan Gunung Pecel Pitik, sebagai pengingat bahwa kebaikan hati, keberanian, dan kepedulian terhadap alam akan selalu berbuah berkah.
Hingga kini, masyarakat Desa Pamotan percaya bahwa selama mereka menjaga alam dan tidak melupakan nilai gotong royong, Gunung Pecel Pitik akan tetap tegak, dan aliran Kali Juwog serta Kali Lesti yang menyatu dengan Sungai Brantas akan terus membawa kehidupan, bukan bencana.
cerita fiksi penulis______
